oleh

Kader HMI USI: Wali Kota Siantar jangan Berondok?

SIANTAR | GN

Viral berita tentang pemandian jenazah wanita yang dilakukan oleh bukan muhrim, terus memantik reaksi dari berbagai tokoh agama, budaya dan masyarakat

Kader HMI Fakultas Hukum Universitas Simalungun (USI) Kota Siantar, kini giliran angkat bicara. Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, diminta bertanggungjawab dan jangan berondok saja.

Zulfahmi Siregar, Raja Doli Lubis didampingi kader lainnya, Widya Putri Utami dan Putri Nurul Juwita, secara khusus mendesak Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, segera hadir ke depan publik untuk menghentikan polemik yang semakin liar.

“Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, buka suaralah. Selaku penanggungjawab gugus tugas penanganan covid di Kota Siantar, jangan cuma diam dan berondok saja. Tak cukup kata maaf yang disampaikan Direksi RSUD dr Djasamen Saragih untuk mengobati luka ummat Islam saat ini,” tegas Zulfahmi.

Masih kata Zulfahmi lagi, pihak RSUD Djasamen Saragih, sudah melecehkan Syariat Islam secara sadar dan dalam kultur budaya.

“Apa mungkin kasus ini bukan pertama kalinya. Saya menduga ini kasus mungkin sudah sering terjadi. Pihak RSUD Djasamen Saragih, tidak mungkin tidak faham. Apalagi ada 2 yang non muslim ikut memandikan jenasah perempuan muslim. Maka dari itu, pelecehan ini murni dilakukan dengan sadar oleh pihak yang bersangkutan dalam hal ini RSUD Djasamen Saragih,” tambah Zulfahmi.

Ditambahkan Raja Doli Lubis, Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, juga harus tegas. Karena apa yang dilakukan oleh pihak RSUD dr Djasamen Saragih, adalah bentuk pelecehan terhadap Syariat Islam.

“Ini masalah yang serius. Apapun alasannya, jelas itu adalah pelecehan terhadap Syariat Islam. Jika hal ini tidak juga diproses oleh wali kota dan Polres Siantar, mungkin ini akan memicu gelombang massa yang besar untuk turun ke jalan,” papar Doli Lubis.

Sementara Widya Putri Utami, menyampaikan rasa kecewanya selaku muslimah.

“Jenasah wanita muslim (muslimah) itu hanya boleh dimandikan oleh suami atau mahramnya. Selain bilal Mayit wanita. Kami selaku muslimah merasah secara tidak langsung seperti dihina dan pada dasarnya kami wanita muslimah ini hanya bisa di sentuh oleh yang mahram kami saja. Apalagi itu jenazah ustadzah, guru juga di alwashliyah. Kami mengecam atas tidakkan tersebut. Dan juga yang kami sesalkan ada 2 pria yang non muslim ikut memandikan jenasah,” ketus Widya Putri.

Kader HMI Fakultas Hukum USI, berjanji akan terus mengawal dan berkoordinasi dengan aparat Kepolisian agar tidak terjadi sikap-sikap intoleran kembali terjadi di Kota Siantar.

Sekadar diketahui, empat pria dua di antaranya non muslim, nekat memandikan jenasah pasien perempuan yang meninggal di RSUD dr Djasamen Saragih beberapa hari lalu. (Riz)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA