oleh

DPRD Siantar Ungkap Sinyal Kerugian Negara dalam Hibah Lahan GKPS kepada Pemko Siantar

SIANTAR – ST

Hibah areal lahan milik GKPS di Jalan Pdt J Wismar Saragih kepada Pemerintah Kota (Pemko) Siantar, dianggap hanya untuk kepentingan tertentu dan merugikan keuangan negara.

Hal ini mencuat pada perdebatan di tengah Rapat Paripurna DPRD Kota Pematangsiantar, Kamis (26/9/2020) kemarin.

Dalam rapat pengesahan Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (P-APBD) Tahun 2020, beberapa angota dewan meminta agar pembangunan pagar senilai Rp2,7 miliar di atas lahan hibah tersebut dihentikan sementara.

Pasalnya, hibah tersebut sedang dalam proses gugatan dari pihak internal GKPS di Pengadilan Negeri Kota Siantar.

Sebagian DPRD Siantar khawatir, jika pihak penggugat menang maka uang negara yang berasal dari rakyat terbuang sia-sia.

Salahsatu yang menyampaikan pandangan agar pembangunan pagar ditinjau kembali adalah Suhandi Sinaga.

“Kita bukan mau membatalkan pembangunan itu, tetapi karena ada orang yang keberatan, yaitu simpatisan GKPS dan masalah ini sudah saya laporkan ke DPRD Siantar,” katanya.

Sebagaimana yang dikatakan Suandi Sinaga, pembangunan itu tentu sangat bagus tetapi proses di pengadilan perlu menjadi perhatian.

“Kita berandai-andai, kalau pengadilan memenangkan penggugat itu, tanah itu tidak jadi diberikan ke kota ini, bagaimana? Wali Kota Siantar sudah disomasi, tetapi tidak mendapatkan titik terang,” jelasnya.

Menurut Suandi Sinaga lagi, nilai tanah yang diserahkan kepada Pemko Siantar juga sangat jauh berbeda dengan nilai pembangunan pagar.
“Kalau dihitung luas tanah dan nilainya bisa sampai puluhan miliar. Sementara nilai pagar yang dibangun pemko hanya Rp2,7 miliar. Itu yang dipermasalahkan sekarang,” tutupnya.

Sebelumnya, dalam rapat Komisi III DPRD Siantar, hal ini sempat dibahas karena ditengarai bakal muncul masalah di kemudian hari. Seperti yang disampaikan Astronout Nainggolan selaku anggota DPRD Siantar pada kesempatan itu, dengan meminta agar PUPR mengecek kembali keabsahan pengalihan aset sebelum kemudian membangun pagarnya.

“Saya dengar masalah ganti rugi tanah dan pagar, mereka saling gugat menggugat ke pengadilan. Ada internal mereka saling menggugat. Dari pada pekerjaan kita nanti sia-sia, tolong dicek ulang situasinya seperti apa. Jangan sampai nanti kita bangun itu tidak berarti. Masalah sertifikat dan mekanisme pengalihan tanah ini jadi masalah bagi internal mereka,” jelasnya.

Menjawab itu, Kadis PUPR Reiward Simanjuntak, menjelaskan bahwa landasan pengalihan lahan GKPS menjadi jalan umum, Pemko Siantar menggatinya dengan membangunkan pagar, tertuang dalam MoU.
Apa yang disampaikan Reinward langsung ditanggapi Daud Simanjuntak ketika itu.

“Apakah MoU sudah kuat menjadi landasan hukum? Yang saya tahu, MoU tidak bisa menjadi pegangan hukum. Tidak bisa. Pengalaman saya di beberapa daerah. Harus ada bukti tertulis serah terima. Jangan nanti jadi masalah, mana buktinya, kata pengadilan? Selama tidak ada bukti tertulis ini bisa digugat,” terang Daud.

Astronout Nainggolan juga mengaku, hibah tanah GKPS sudah pernah ia sampaikan dalam waktu RDP sebelumnya. Tujuannya menghindari terjadinya kerugian dari biaya pembangunan pagar senilai Rp2,7 miliar.

“Saat RDP pun sudah saya pertanyakan mengenai nilai pagar yang dibangun dengan nilai tanah yang dipergunakan. Kan harus ada tim apraisalnya menghitung. Itu kan mekanismenya. Bukan tidak setuju pagar itu dibangun, tapi jangan sampai sia-sia kalau sudah dibangun,” ucapnya.

Menurut Astronout Nainggolan, secara pribadi tidak setuju dengan pembangunan jalan tersebut. Pertama, penempatan pemborosan anggaran. Kedua, kelanjutannya tidak jelas.

“Sampai dekat lampu merah, ada rumah penduduk. Diujung (Jalan Rindung) mentok. Nggak usah dibohongi, itu kepentingan orang tertentu. Karena yang saya tahu bahwa mekanisme pengalihan tanah itu tidak sesuai dengan peraturan dan syarat tidak benar. Jadi saya lihat, itu rawan dimenangkan penggugat. Tidak bisa hanya seorang Ephorus yang memutuskan bahwa tanah itu dihibahkan,” kata Astrounot. (Ops/rel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA