oleh

Irjen Martuani Sormin, Bahagianya Sempurna Sampai Akhirnya

Catatan : Zulkifli

Sejarah hidupnya penuh dengan penderitaaan, pahit dan keras. Untuk mengubah nasib, Martuani Sormin memberanikan diri merantau ke Pulau Jawa. Modalnya hanya keberanian. Selebihnya, adalah keterbatasan. Dia berangkat dari kampungnya di Lumban Sormin, Taput, tanpa mengerti bahasa Indonesia. Tujuannya, sekolah ke Jawa untuk mengubah nasib.

Menetap di Pati, Jawa Tengah, Martuani muda pun masuk ke sekolah favorit SMA Negeri 1 Pati, hanya modal nekat. Bahasa bataknya kental, bahasa Indonesianya nyaris nol. Saat pengumuman naik ke kelas dua, para guru merekomendasikan Martuani tak naik kelas. Beruntung, sang Kepala Sekolah ketika itu memberinya dispensasi; naik percobaan.

Hati kecil Martuani meronta. Dia tahu bahwa dia bukanlah anak yang bodoh. Di kampungnya dia murid berprestasi. Hanya dia masih sulit beradaptasi, karena ketidakmampuannya berbahasa Indonesia. Naik percobaan ini pun, semakin menantangnya untuk membuktikan, bahwa Martuani adalah putra terbaik Sormin Siregar, putra terbaik anak kampung di pelosok Sumatera Utara.

Naik percobaan itu adalah cambuk bagi Martuani. Cambuk pedas itu dia balas dengan prestasi gemilang. Dia berhasil lulus dari SMA Negeri 1 Pati dengan predikat terbaik. Anak par huta-huta ini pun melanjutkan prestasinya dengan menempuh pendidikan di Akabri. Makan tak makan dia lalui, bahkan dia pernah menahan selera hanya dengan mencium wewangian masakan. “Mencium wanginya pun saya rasa sudah kenyang.” ujarnya mengenang kepahitan hidupnya dulu.

Kini, Martuani hidup sangat bahagia. Tergambar dari tarian Tor-tornya saat disambut warga di acara silaturahmi Kapoldasu dengan Forkompinda serta tokoh masyarakat Toba pada 23 Juli 2020 di Balige.

Kebahagian itu kini dilengkapi dengan tiga buah hatinya menjadi anak anak yang membanggakan. Walau menjadi anak pejabat, ketiga anaknya adalah anak anak yang santun, jauh dari glamour hidup apa lagi arogan dan sombong. Sungguh didikan yang luar biasa.

Martuani sendiri, adalah sosok Kapolda yang sangat penyayang terhadap orang kecil. Martuani adalah sosok yang merasa cukup. Jabatannya kini sebagai Kapolda Sumut, tidak dia pergunakan untuk meraup harta untuk persiapan di hari tua, seperti kebanyakan orang yang akan pensiun. Sungguh suri tauladan yang membanggakan. (***)

(Penulis adalah Dewan Pengarah Gobernews)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA