oleh

GMKI Diskusi Covid-19: Saatnya Cari Sosok Baru Wali Kota Siantar

SIANTAR | GN

Dalam diskusi yang digelar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun,
terungkap keinginan publik agar muncul sosok wali kota baru yang mampu mengatasi Covid-19.

Diskusi digelar terbatas dan live streaming pada hari Selasa sore (14/7/2020) di 2DP Cafe Jalan Farel Pasaribu.

Seyogianya, diskusi mengundang bakal calon (balon) Wali Kota Siantar seperti Asner Silalahi, Binsar Situmorang, Ojak Naibaho, Rajamin Sirait sampai Hefriansyah Noor. Akan tetapi, para balon tak ada yang hadir.

Sementara pembicara yang hadir antara lain; Kristian Silitonga, Astronout Nainggolan dan May Luther Dewanto Sinaga.

“Kita tetap membahas gagasan apa yang perlu untuk COVID-19 oleh para bapaslon, meskipun para bapaslon tidak menghadiri undangan kami.” ujar May Luther Dewanto Sinaga, yang juga Ketua GMKI Pematangsiatar-Simalungun.

Selain pembicara, diskusi ini juga melibatkan akademisi Robert Tua Siregar dan Pdt Beresman Nahampun dari tim advokasi lintas agama sebagai panelis.

Diskusi yang diawali oleh Moderator, Gading S, ini mengungkap kekecewaan karena ketidakhadiran para Balon Wali Kota Siantar dengan beragam alasan.

“Semoga para bapaslon dapat hadir di lain waktu.” ujar Gading singkat.

Diskusi ini diawali oleh tanggapan Pembicara Astronout Nainggolan yang menyebut bahwa pandemi COVID-19, telah menguji dunia termasuk daya intelektualitas kita untuk berlomba memberi gagasan.

“Jadi Pilkada ini bisa menjadi show beradu gagasan, karena untuk mengatasi pandemi ini kita harus butuh banyak ide-ide baru,” ujar anggota DPRD dari PDI Perjuangan ini yang mengaku telah mengurungkan niat menjadi Bacalon Wali Kota Siantar tahun 2020.

Sementara May Luther Dewanto Sinaga menyebut bahwa Kota Pematangsiantar, membutuhkan figur baru karena Kota Siantar sedang krisis kepemimpinan, terutama memahami persoalan COVID-19.

“Makanya pilkada 2020 inilah momentum untuk menemukan figur baru dengan referensi dapat menanganani isu COVID-19 yang sudah meresahkan masyarakat,” ujar Luther.

Sementara Kristian Silitonga menilai bahwa pandemi telah mengubah peta politik dan grand isu menjelang pilkada, sehingga para bacalon juga harus dapat menyesuaikan strategi politiknya.

“Sekarang isu money politik, isu agama tak lagi berlaku. Orang-orang telah pintar dengan mencari pemimpin yang paham COVID-19 karena COVID telah menyusahkan semua latarbelakang,” ujar Kristian.

Menanggapi tanggapan para pembicara, panelis Pdt Beresman Nahampun menyebut, bahwa permasalahan COVID-19 tak cuma menitikberatkan walikl kota, namun juga DPRD yang dinilai tidak memaksimalkan potensi institusinya dalam penanganan COVID-19.

“Jadi tak cuma memilih wali kota, tapi kita juga harus menyuarakan optimalkan fungsi DPRD karena mereka juga wakil kita,” ujar Beresman.

Senada dengan Beresman, Robert Siregar menilai, masyarakat telah cukup pintar untuk memilih calon wali kota selanjutnya karena isu pandemi telah menjadi isu besar yang menjadi tantangan besar bagi wali kota selanjutnya.

“Karena pandemi ini bisa sampai tahun depan, jadi isu ini menarik perhatian semua orang karena menjadi tantangan besar bagi Bacalon,” ujar Robert.

Diskusi yang berlangsung selama 150 menit ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan tanggapan-tanggapan pembicara yang intinya mengharapkan masyarakat cerdas dengan memilih pemimpin yang paham penanganan covid. Sehingga penanganan COVID-19 menjadi grand isu.

“Kami tidak menyimpulkan, andalah yang meyimpulkan karena anda juga yang akan menentukan pilihan.” ujar Ketua GMKI Pematangsiantar-Simalungun, May Luther Dewanto Sinaga dalam pernyataan penutupnya didampingi moderator Gading S. (Rel/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA