oleh

Covid-19 Simalungun Beda (Bagian-1)

Catatan : Jan Wiserdo Saragih.

Awalnya tak niat sedikitpun mencatatkannya , karena percaya akan ada tanggapan dari pemerhati , para kritikus dan kontrol media. Tapi setelah tiga bulan belum ada yang mempertanyakannya.

Dari sembilan video konferensi pers Bupati Simalungun JR Saragih, saat memberikan keterangan sebagai ketua tim gugus percepatan penanganan Covid-19 yang beredar di media sosial, ada beberapa yang menarik dan jadi catatan khusus.

Dalam video tanggal 28 Maret 2020, JR Saragih menyatakan. “Apabila satu kena (terpapar covid-19) maka akan berpotensi menularkan kepada paling tidak 3.000 orang”. Benarkah demikian?

Sementara menurut WHO, Basic Reproduktif Number (R0) untuk Covid-19 yang direkam WHO angkanya antara 1,9 sama 5 , dan untuk Indonesia sendiri, R0 nya diperkirakan 2,5. Artinya satu orang bisa menularkan ke dua atau tiga orang.

Jadi mengapa dan untuk apa JR Saragih menyatakan satu orang bisa menularkan paling tidak atau minimal 3.000 orang?

Tak ingin beropini apa pun, biar rakyat Simalungun yang menjawabnya.

Pada topik lain, JR Saragih menyampaikan kemudian. “Baru saja kami melakukan test rapid terhadap pasien, keluarga dan termasuk dokter yang memeriksa. Hasilnya masih semua negatif”. Walaupun masih semua negatif di nagori tersebut, JR Saragih menerbitkan surat agar lokasi yang dimaksudnya tersebut diisolasi.

Dan saat konferensi pers tanggal 3 April 2020, JR Saragih antara lain menyatakan pula; Siang ini kami akan terjun langsung ke Perdagangan , di situ kami membawa Rontgen, Laboratorium , Rapid test dan kami akan mencek 100 sampai 150 sample”.

“Besok kami ke Karang Sari. Di sana kami akan cek sekitar 200 menjadi sample…dst.

Kemudian pada video konferensi pers tanggal 4 April 2020 yang ditayangkan Efarina TV. Ketua tim gugus Simalungun, ini menyatakan antara lain: Setiap kami temukan, langsung kami sisir. Kami periksa di nagori (lokasi) itu. Kami bawa tim. Ini kami lakukan untuk mencegah.

Dan lewat video tgl 8 April 2020, JR Saragih kembali menyampaikan antara lain, “Kami datang ke situ. Ternyata selalu ada kita temukan. Kita sample 100 kita temukan satu, ini menandakan bla…bla…bla”.

Sampai di sini mungkin masih masuk akal, kerja tim gugus bergerak cepat dan terlihat luar biasa. Bahkan saat itu banyak menuai pujian.

Tapi mari bandingkan dengan video tanggal 6 April 2020 yang disiarkan Efarina TV saat konferensi pers JR Saragih dari Jalan Bali Kota Siantar.

Saat itu JR Saragih menyatakan antara lain; Setelah itu, hari ini juga kita melakukan pengetesan di Raya, kita coba masyarakat di situ. Kita sample 15 , satu positif dan dirawat di Rondahaim. Kita juga menyample satu masyarakat Sarimatondang. Juga sama satu positif sekarang di rawat di Rondahaim.

Khusus Sarimatondang ini sungguh sangat menarik. Karena satu yang ditest samplenya dan ternyata positif. Ini mengindikasikan tingginya persentasi kemungkinan yang positif atau bisa kemungkinan 100% masyarakat kawasan itu yang positif.

Dari semua nagori yang ditemukan positif, kecuali Raya dan Sarimatondang ini, tim gugus Covid Simalungun langsung sigap cepat melakukan isolasi, melakukan pengecekan sample, membawa tim lengkap dengan rontgen, lab, rapid test dan tenaga medis.

Menjadi aneh karena saat di nagori lain ada satu yang positif, tim gugus langsung menyample dengan rapid test 70 sampai 200 orang dan dari sample tersebut ditemukan 2 dan 3 orang. Satu nagori langsung diisolasi.

Tetapi berbeda dengan di Raya, hanya 15 yang di sample satu positif, tim gugus tidak melakukan pengetesan dan penanganan sebagaima di daerah lain yang di temukan positif, cukup menyatakan sedang dirawat.

Yang lebih aneh lagi, di Sarimatondang dari satu yang di test ternyata satu positif. Artinya persentasinya hampir semua masyarakat Sarimatondang berpotensi positif.

Tapi anehnya, JR Saragih atau tim gugus tidak ada menyatakan akan melakukan pengecekan sample lanjutan baik keluarga terdekat maupun masyarakat. Tidak ada membawa rontgen, lab dan rapid test cukup hanya menyatakan yang bersangkutan sedang dirawat.

Sangat kontradiktif dan membingungkan saat satu di test dan satu positif, tetapi tidak dilakukan tindakan apa pun, walaupun sebelumnya dinyatakan apa bila satu kena paling tidak bisa memaparkan 3000 orang lainnya.

Terlalu panjang tulisan ini , jika harus menuliskan hoax, keanehan dan ketidak rasionalan cara menghadapi covid di Simalungun. Biarlah itu dicatatan bagian ke dua.

Tak ada ingin membuat kesimpulan apa pun tentang ini. Cuma kuat bertanya saja. Untuk apa dan kenapa tega ?

Masa iya dengan anggaran sebesar Rp.199.664.477.596., atau hampir Rp200 miliar hasilnya seperti ini ?

Tentang jumlah ini, biarlah diurai dalam bentuk laporan karena sudah tidak cukup hanya sebagai catatan.

Semoga virus covid ini cepat berakhir dan semua masyarakat mematuhi dengan sungguh protokol kesehatan. Karena dengan demikian kita juga sudah berperan mencegah pejabat melakukan kejahatan. (Bersambung)


(Penulis adalah Ketua Umum KNPSI Pusat)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA