oleh

Resman Panjaitan, Pejabat Sentral Pemko Siantar yang Tak Tergantikan (Bagian -3)

Catatan: Putra Marpaung

Sejak dianggap sukses ikut memperjuangkan Hulman – Hefriansyah mendapat rekomendasi Partai Demokrat, Resman Panjaitan seolah menjadi ‘King Maker’ tim pemenagan.

Mayoritas media-media baik lokal mau pun luar daerah Kota Siantar, tak terhindarkan untuk menjadi sahabat karib dalam pematangan sisi-sisi strategi pemenangan bagi pasangan ‘Manis’ ketika itu.

Hubungan Resman Panjaitan yang sebelumnya memang dekat dengan wartawan dan LSM, makin terekat erat. Tak pernah Resman Panjaitan mengeluh apalagi menolak beragam strategi yang diajukan kepadanya dalam upaya pemenangan bagi sang petahana. Belum lagi soal hal di luar kepentingan pemenangan yang diajukan kepadanya. Resman siap saja ‘menantang badai’.

Posmetro Medan, menjadi salahsatu media cetak yang diajak Resman turut membantu memenangkan pasangan Hulman-Hefriansyah.

Melalui perwakilan Siantar yang ditunjuk oleh salahsatu penentu kebijakan di Redaksional, Zulkifli atau yang akrab disapa Zul Pening, permohonan Resman direspons positif. “Gas. Aku juga kenal sama Hefriansyah,” kode Zul Pening memberi tanda bahwa dia menyetujui permohonan Resman yang disampaikan lewat perwakilan redaksi Posmetro Medan di Siantar.

Koran terbiatan Medan ini pun menjadi saksi nyata bagaiman perjuangan Resman Panjaitan menyukseskan kemenangan pasangan Manis walau hanya di balik layar.

Secara teknis, tentu saja Resman Panjaitan tak memahami betul pola strategi media dalam hal pemenangan di Pilkada. Tapi kesiapannya menanggung ‘amunisi’ kebutuhan pergerakan media, menjadi poin penting yang tak dinafikkan.

Perjalanan panjang proses Pilkada 2015 memang sangat melelahkan ketika itu. Sebab sempat tertunda beberapa kali dan berlarut-larut tak bisa digelar hingga 11 bulan lamanya. Akhirnya tepat pada 16 Nopember 2016, pemungutan suara barulah dapat terlaksana.

Di hari pencoblosan itu, koran Posmetro Medan masih nekat menerbitkan iklan imbauan yang mengarah pada kampanye agar memilih pasangan Manis. (Foto berita merupakan iklan asli terbitan di hari pencoblosan)

Koran dicetak 5 ribu eksemplar khusus dikirim ke Siantar. Disejumlah tempat pemungutan suara (TPS) khusus di lumbung suara lawan, koran berisi iklan kampanye gelap itu dibagi secara gratis kepada masyarakat.

Bahkan di TPS tempat Hulman Sitorus mencoblos, sengaja ikut disebar. Sampai-sampai, Hulman glagaban menjawab komplain dari sejumlah saksi dari tim lawan. Hulman tak bisa berbuat banyak kecuali hanya kebingungan dan buru-buru meninggalkan TPS usai mencoblos. Karena memang, Hulman tak pernah mengetahui gerakan itu.

Tak sedikit personil yang ditugaskan redaksi untuk mebagikan koran ke TPS-TPS, harus dikejar-kejar oleh tim lawan. Karena dianggap masih berkampanye di hari pemungutan suara. “Black Campaign klen. Sini klen,” teriak para tim lawan yang tak terima strategi media ‘nekat’ itu.

Jangankan di hari pencoblosan. Segala bentuk kampanye memang seharusnya sudah berhenti dalam masa Minggu Tenang atau seminggu sebelum hari pencoblosan.

Tapi itulah faktanya. Koran Posmetro Medan tetap “Gila” masih mau menerbitkan iklan berbau kampanye itu. Tak heran ketika itu, Koran Posmetro Medan dilaporkan ke pihak bewenang dan dijadikan materi gugatan oleh tim lawan sampai ke Mahkamah Konstitusi.

Zulkifli selaku penanggungjawab koran, ikut kerepotan tapi menganggap itu hal biasa. “Ecek-ecek ini,” tandas Zulkifli yang akibat iklan itu, ia harus bulak-balil Siantar – Medan demi memenuhi panggilan pihak berwenang.

Sementara Resman Panjaitan, hanya terseyum sambil menggeleng kepala. “Gilak klen,” katanya tersenyum. (Bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA