oleh

Tiga Hal yang Mengancam Wartawan belum Usai, Kini Bertambah Satu Lagi

SIANTAR | GN

Profesi wartawan kerap dihadapkan dengan tiga ancaman serius. Alih-alih ketiganya bisa teratasi, ancaman baru justru datang di kalangan insan pers Kota Siantar.

example banner

Tidak mudah menjadi wartawan profesional. Menggarap satu berita sampai bisa menyajikannya ke hadapan pembaca, harus menguras upaya keras dan pemikiran yang cerdas. Naasnya, segitu berat perjuangan telah dilalui, hasil dari sebuah karya jurnalis wartawan tak semua bisa diterima publik secara menyeluruh.

Sebaliknya, selalu saja ada pihak-pihak yang merasa terganggu atas pemberitaan yang justru; Membongkar kedok jahatnya yang selama ini sengaja dibungkus dengan rapi. Pihak-pihak seperti inilah yang kerap melakukan tindakan sepihak hingga tak segan melakukan tiga perbuatan yang mengancam keselamatan wartawan. Seperti menganiaya, mengkriminalisasi sampai membunuh wartawan terpaksa dilakukan.

Konsekwensi seperti itu sudah menjadi ‘santapan’ sehari-hari dalam dunia wartawan sebelum terjun ke lapangan. Lantas apakah mereka takut? Jawabnya tentu tidak. Terbukti sampai sekarang eksistensi wartawan masih terwujud secara konkrit baik dalam tataran sosial masyarakat, bangsa dan negara.

Mungkin karena keberanian wartawan yang tak terbatas pada pribadinya, sedikit merubah pola ancaman para pihak yang merasa terganggu dengan sepak terjang wartawan. Caranya, melancarkan kekerasan terhadap orang terdekat wartawan.

Seperti yang kemarin terjadi di Siantar. Tak hanya sosok wartawannya. Ibu kandungnya juga tak luput dari reaksi pihak yang tak senang aksi jahatnya dibongkar wartawan. Usai menurunkan berita keras terhadap diduga sindikat narkoba, wartawan bernama Irfan Nahampun jadi sasaran kekerasan mereka. Bahkan, ibu kandungnya harus menjadi korban dan harus dilarikan ke rumah sakit lantaran menderita luka-luka.

Takutkah wartawan setelah itu? Lagi-lagi jawabnya tidak. Lewat jalur hukum, wartawan membalas kekerasan itu. Polres Siantar sigap dan langsung menangkap pelakunya untuk diadili sesuai hukum yang berlaku di negeri ini

Sebagai bentuk apresiasi penegakan hukum yang sudah dilakukan Polres Siantar, sekaligus menunjukkan eksistensinya untuk tetap meneruskan profesi mulia, para wartawan menggelar aksi solidaritas di inti Kota Siantar, tepat di Jalan Merdeka depan Balai Kota, Jumat (17/01/2020) siang.

Aksi bersama Aliansi Jurnalis Independent (AJi) Kota Siantar, para wartawan mengumandangkan kesiapan mereka mengawal kasus kekerasan terhadap Irfan dan ibunya, sampai tuntas di pengadilan.

Koordinator aksi solidaritas, Imran Nasution, berharap kekerasan terhadap pers tidak terulang kembali. Apalagi terhadap orang-orang dekat wartawan. “Kita berharap tidak terjadi lagi seperti yang dialami rekan kita Irfan Nahampun. Harus mengalami tindakan kekerasan oleh preman. Kasus ini harus kita desak dan kawal agar berjalan sesuai aturan dan terpenting, menimbulkan efek jera. Aksi ini akan kita lakukan rutin agar tidak terulang lagi,” tegas Imran.

Sementara Irfan Nahampun yang tak ketinggalan dalam aksi, berharap aparat penegak hukum (APH) serius menyikapi kasus yang menimpanya. “Buat pelaku agar dihukum sesuai undang-undang yang berlakulah,” harap Wartawan Media Online Lintangnews ini menambahkan.

Sementara rekan wartawan lainnya, Rudi Samosir, mengungkapkan kekerasan terhadap wartawan Siantar Simalungun sudah puluhan kali terjadi. Angka kekerasan terhadap wartawan secara nasional, masih kata Rudi, tercatat mencapai 512 kasus sepanjang 2014 hingga 2018.

“Kekerasan terhadap wartawan tidak terlepas dari pemberitaan yang mengganggu ketenangan dan kenyamanan para pelaku,” sebutnya sembari menegaskan, kasus Irfan Nahampun menjadi sejarah baru di Kota Siantar karena ikut menyasar pada kelurga terdekat.

Sekadar diketahui, kasus kekerasan wartawan salahsatu media online di Siantar, ini sudah memasuki tahap pelimpahan ke Kejari Siantar. Tinggal menunggu gelar persidangan. (Ung/rel) example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI