oleh

Wali Kota jadi Si Raja Tega di Pilkada Siantar: Antara Penjara dan Keranda

Catatan : Putra Marapaung

Perilaku tega tak mendapat tempat di hati masyarakat. Apalagi Raja Tega. Jauh dari karakteristik kita. Lantas, kenapa Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor rela menjadi si Raja Tega dalam menghadapi Pilkada Siantar tahun ini?

Opini publik dibuat tersentak. Keinginan dari pemimpin tertinggi Pemko Siantar itu dinilai ‘gila’ dan tak wajar. Bukannya menebar kebaikan sebagai panutan masyarakat, wali kota justru menjungkirbalikkan perspektif positif tatanan sosial bermasyarakat.

Tak ada belas kasih lagi. Raja Tega di atas sekejam-kejamnya perilaku manusia. Memaknai isu Raja Tega yang digelorakan wali kota, memang belum pasti arahnya. Menyasar pada tatanan sosial bermasyarakatkah? Atau Raja Tega yang dimaksud hanya bentuk sikap keras terhadap calon rival- rivalnya di Pilkada Siantar nantinya.

Sebagaimana politik itu kejam. Begitulah agaknya sebagian publik berpendapat: Wali kota menjadi si Raja Tega hanya demi memenangkan pilkada. Kesan dalam berpolitik bangsa kita, memang identik menghalalkan segala cara. Tapi haruskah dilawan dengan berubah menjadi si Raja Tega? Kalaulah benar begitu, Hefriansyah Noor harus mengaji ulang keinginannya. Karena murka Tuhan selalu menunggu di depan.

Hasrat menggapai ambisi Hefriansyah dalam mempertahankan kembali jabatan Wali Kota Siantar dengan berubah menjadi si Raja Tega, dua pekan belakangan ini tak dipungkiri masih saja menyisakan perspektif negatif dalam pemikiran publik. Tentu hal itu menjadi kerugian terbesar bagi upayanya dalam menarik simpati pemilih di Pilkada Siantar nanti. Apalagi, jika hal itu terus menerus dijadikan gorengan politik para penantangnya. Alamat semakin hancur lebur reputasi Hefriansyah yang selama ini juga tak begitu baik.

Tak ada solusi lain untuk mengembalikan perspektif positif ke tengah publik. Kecuali meluruskan soal isu si Raja Tega tadi. Hefriansyah harus mau menyeret kedua mantan pejabatnya ke jalur hukum. Kedua mantan pejabat yang dipecat Hefriansyah itu harus bisa mempertanggungjawabkan kabar yang disebarnya. Apa yang disampaikan keduanya dengan mengatakan Hefriansyah siap menjadi Raja Tega dalam menghadapi Pilkada Siantar, perlu diuji kebenarannya.

Sehingga lagi-lagi, tidak menjadi bola liar yang menabrak pemikiran positif masyarakat. Jika Hefriansyah tidak melakukan itu, maka teranglah kabar Hefriansyah akan menjadi si Raja Tega pada Pilkada Siantar, nyata adanya di mata publik. Sesuai dengan yang disebarkan dua mantan pejabatnya.

Kalau Hefriansyah tetap juga ingin menjadi si Raja Tega demi memenangkan pertarungan di Pilkada Siantar tahun 2020, maka perlu diingat. Di mana selama ini fakta menunjukkan; Pemangku jabatan Wali Kota Siantar hanya bisa satu periode. Belum ada yang bisa lolos menjabat selama dua periode berturut-turut sejak sistem pilkada langsung digelar. Kalah masuk penjara, menang masuk peti jenasah sebelum resmi di lantik.

Begitulah sejarah Pilkada Siantar mencatatnya. Sekali pun yang terdahulu tanpa harus menjadi si Raja Tega, Pilkada Siantar selalu menghasilkan wali kota baru. Oleh karena itu, Hefriansyah tak perlu menjadi si Raja Tega. Dengan bertarung jujur di Pilkada Siantar nantinya, semoga tak menyusul jejak pendahulunya. Kalah tak masuk penjara, menang tak masuk keranda. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA