oleh

MMI: Ramadhan Fair kok Ada Riba?

SIANTAR | GN-Bukan saja soal penutupan akses bahu Jalan Adam Malik Kota Siantar jadi soal. Ketua MMI (Majelis Muslimin Indonesia) Siantar-Simalungun, Ir Bonatua Pospos, memastikan Ramadhan Fair pantas ditutup karena hanya akan menjerat masyarakat kepada praktik riba di dalamnya. Siapa paling bertanggungjawab?

“Saya baru tahu kalau Kabag Humas Pemko Siantar Hamam Soleh, memiliki peran penting dalam suksesi acara Ramadhan Fair itu. Tapi saya tak melihat upaya beliau untuk memberikan jaminan kepada masyarakat, bahwa kegiatan yang dibuka Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, itu murni demi menyemarakkan malam Ramadhan. Sebaliknya, justru saya melihat nuansa mencari keuntungan di dalam kegiatan itu lebih mendominasi,” pungkas Bonatua Pospos, Jumat (24/05/2019) malam.

Kapolres Siantar AKBP Heribertus Ompusunggu, masih menurut  Bonatua, hendaknya segera mengevaluasi izin yang terlanjur dikeluarkan. Harapannya, tak hanya akses bahu jalan di alun-alun kota bisa segera digunakan oleh masyarakat luas, tapi ikut menyelamatkan ummat Islam dari jerat riba.

“Saya bertandang ke sana (lokasi Ramadhan Fair) yang ada justru dagangan komersil yang sangat berorientasi keuntungan semata. Bahkan, ada praktik riba di dalamnya. Riba dilarang di dalam Islam. Tapi praktik Riba terjadi di Siantar Ramadhan Fair. Beroperasinya Riba di Ramadhan Fair, menjadi tanggungjawab Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor yang membuka dan meresmikan acara itu. Hamam  Soleh, jelas gagal pada titik ini saya nilai,” tegas Bonatua, sembari berharap, Wali Kota Siantar segera mengevaluasi jabatan Hamam Soleh di struktur Pemko Siantar karena jelas-jelas menjerumuskan Wali Kota ke dalam kegiatan yang diharamkan dalam Islam.

Ditambahkan Bonatua, pihaknya sangat mendukung pencabutan izin penutupan akses bahu Jalan Adam Malik yang digunakan untuk kegiatan Ramadhan Fair. Mengingat, praktik riba yang berlangsung di sana, dapat menyelematkan masyarakat dari dosa yang sangat dilarang keras oleh Allah SWT. “Riba ini sangat berbahaya. Islam tegas menolak Riba. Karena itu, kita minta bubarkan Ramadhan Fair itu segera,” tandas Bonatua.

Amatan GOBERNEWS ke lokasi Ramadhan Fair, apa yang dimaksud Bonatua ternyata benar adanya. Salahsatu perusahaan pembiayaan beroperasi di lokasi Ramadhan Fair. Masyarakat yang hendak membeli barang rumahtangga mau pun elektronik yang dijajakan di lokasi Ramadhan Fair, bisa langsung membawa pulang barang dan pembayaran didahulukan menggunakan jasa perusahaan pembiayaan. Tapi ironisnya, tanpa disadari, Ramadhan Fair tercemar dengan praktik riba saat proses transaksi jual beli barang. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA