oleh

Gotong Royong Digalakkan: Pemko Siantar Bercita-cita Luhur

Catatan: Putra Marpaung

Derasnya serbuan ideologi asing dan kemajuan teknologi dunia, menggusur budaya gotong royong sebagai identitas jati diri bangsa.

Menarik sekali mengikuti diskusi gotong royong kemarin. Di Ruang Data Balai Kota Pemko Siantar. Ada pejabat setingkat camat, kabag, kadis bahkan Sekda Kota Siantar Budi Utari. Mereka lantas bersepakat: Gotong royong, digalakkan kembali demi memaksimalkan capaian visi dan misi mewujudkan Siantar Mantap, Maju dan Jaya. 

Bahkan tak sekadar itu. Pemko Siantar menyelipkan nazar. Gotong royong yang akan digalakkan nantinya, mampu lebih merekatkan persatuan dan kesatuan warga kota. Bukan tak mungkin. Jika kelak Pemko Siantar sukses menancapkan kembali tonggak budaya gotong royong di dasar jantung sanubari warga kota, maka bertambah pula julukan untuk kota ini di mata nasional. Selain kota paling toleran, boleh jadi sebagai kota paling gotong royong se Indonesia. “He…he…he…Bolehlah, bernazar (berniat) kayak begitu,” kata Kabag Humas Pemko Siantar, H Soleh MAP.

Meledak pecah seruan kata ‘setuju’ dari peserta diskusi kala itu. Ketika Sekda Kota Siantar sebagai moderator diskusi, memantapkan persepsi; Bahwa Program Gotong Royong Pemko Siantar, harus digalakkan karena membawa misi luhur dan berkesinambungan. Dua suku kata dalam gotong royong, memang sangat sederhana. Tapi ketika terimplementasi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dampaknya sangat luar biasa. 

Banyak dialektika positif ketika membahas soal gotong royong. Seperti saat menyongsong kemerdekaan Republik Indonesia. Bung Karno saja, dalam pidato 1 Juni 1945, ikut menyebut gotong royong sebagai landasan dalam melahirkan Pancasila. Begini kira-kira penggalan pidato sang proklamator bangsa itu: 

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. 

Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama ! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!.

Tak bisa dibantah. Budaya gotong royong sempat menjadi peradaban dalam kehidupan nenek moyang kita. Bahkan seolah menjadi Trah turun menurun hingga ditetapkan Bung Karno sebagai identitas jati diri bangsa Indonesia.

Bergotong royong dalam membersihkan lingkungan sekitar rumah antarmasyarakat dan golongan. Membangun rumah ibadah antarummat beragama dan lain sebagainya, sempat menjadi tren luar biasa di tengah kehidupan masyarakat kita. Tentulah hal itu tak lepas dari keseriusan pemerintah dalam menggalakkan gotong royong itu sendiri. Tak heran, budaya gotong royong sempat terpatri dan membentuk jiwa patriotik individu masyarakat kita. 

Namun belakangan, sadar atau tidak, budaya gotong royong seolah tersingkir oleh roda pembangunan ideologi indivudualisme asing. Serta kemajuan teknologi dunia. Tak heran saat ini, persatuan dan kesatuan bangsa terancam tercabik-cabik bahkan rentan terpecah belah.

Gotong royong sesungguhnya adalah bingkai. Sementara isinya mutlak sebagai pembentukan katakter, watak, bahkan jati diri individu masyarakat dalam bersosial, berbangsa dan bernegara. Terutama soal membangkitkan rasa kemauan dan keikhlasan secara individu. Mau peduli pada lingkungan sekitar. Ikhlas berbagi dan merasa. Bahkan rela berkorban untuk bangsa dan negara.

Gagasan Pemko Siantar menggalakkan kembali gotong royong, selaras sekali dengan cita-cita pendiri bangsa. Gotong royong, harus menjadi identitas tersendiri bagi bangsa sampai kapan pun. Karena tak bisa dinafikkan, dampak gotong royong sesungguhnya sangat luar biasa positifnya. Maka naif jika budaya gotong royong ditinggalkan. 

Demi merawat peradaban itulah, Pemko Siantar merasa perlu menggalakkan kembali budaya gotong royong. Semoga kelak, nawacita luhur Pemko Siantar diapresiasi positif oleh semua komponen bangsa. Sehingga, membawa kebaikan bagi semua. Merdeka. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA