oleh

Wali Kota, Mie Goreng dan Teh Manis (Bagian-1)


Catatan: Putra Marpaung

Kemarin, kami sarapan pagi bersama petinggi ASN Pemko Siantar. Hidangannya sih biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Mie goreng dan teh manis panas. Tapi dari makanan pinggir jalan itu, obrolan kami nyerempet juga ke Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor.

Dari cerita petinggi ASN ini, tertangkap gambaran dari sikap wali kota di dalam menghadapi beragam persoalan yang kini hangat dibicarakan. Termasuk, soal Hak Angket DPRD Siantar untuk tujuan memakzulkannya dari jabatan Wali Kota Siantar. Lalu, kasus Eks Bupati Batu Bara OK Arya, yang kerap dikait-kaitkan pada dirinya. Bukan sampai situ, sikap ngeyel dan kurang patuhnya para pimpinan OPD Siantar kepada orang nomor satu itu, turut disinggung.

Santapan mie goreng kami sudah habis. Tak ada lagi piring bekas makan di atas meja. Gak terasa memang, obrolan seru kami makin jauh menukik hingga masuk kepada penting tidakkah wali kota untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya saat ini.

“Busssset….,” tak disangka, dari penjelasan petinggi ASN itu, sangat jelas tergambar jika wali kota, ternyata tak begitu ambil pusing dengan masalah-masalah yang dihadapinya. Wajar jika sampai kini, wali kota tak begitu mau peduli untuk merespons apalagi menyelesaikan persoalan-persoalan yang kini memanaskan suhu politik Kota Siantar.

“Kesannya nanti di masyarakat, seolah-olah kami takut karena adanya tekanan,” jawab petinggi ASN itu khusus merespons gerakan pemakzulan wali kota yang diinisiatori oleh Jan Wiserdo Saragih. Karena alasan itu lanjutnya, wali kota memilih tak merespons para tokoh inisiator gerakan pemakzulan untuk paling tidak, bisa diajak duduk bersama menyelesaikan masalah yang kini makin meruncing.

“Pak wali juga selalu mengatakan, menyerahkan sepenuhnya semua masalah kepada Allah SWT,” celetuk salahseorang pejabat ASN yang ikut mendampingi petingginya pagi itu. Pernyataan yang konyol. Kenapa? Karena tak mungkin Tuhan menyelesaikan persoalan manusia kalau manusia itu sendiri tak berusaha untuk menyelesaikannya.

Bila pernyataan-pernyataan ini semua benar mewakili wali kota, jelaslah kalau wali kota jauh menempatkan posisinya sebagai  pemerintah yang harusnya melayani masyarakat. Mengapa wali kota menganggap Gerakan Kebangkitanan Simalungun Bersatu (GKSB) yang menuntut penghapusan diskriminasi terhadap Suku Simalungun merupakan penekanan? Bukankah GKSB terbentuk untuk melawan penzoliman yang mereka anggap sebagai upaya diskriminasi terhadap Suku Simalungun? Atau, apakah etnis Simalungun itu tak lagi dianggap lagi sebagai bagian dari masyarakat hingga ada kecenderungan, jika diajak berdamai, maka marwah wali kota dan Pemko Siantar akan runtuh dan amblas. Sungguh naif sikap wali kota jika itu benar adanya.

Obrolan kami makin serius. Tapi sayangnya, ketika hendan masuk ke masalah hukum yang melilit Wali Kota Siantar terkait kasus Eks Bupati Batu Bara OK Arya Zulkarnain mau dibedah, Evra Sasky Damanik tiba-tiba nongol tanpa disangka-sangka. Petinggi ASN yang ketepatan waktu itu duduk menghadap ke luar warung, nampak melambaikan tangan memanggil Evra. Pria yang dikenal sebagai orang dekat wali kota itu, sempat menyinggahi kami dan menyalami kami satu persatu. “Saya ke sebelah dulu ya,” pamit Evra yang ternyata sudah ada janji bertemu seseorang di sebelah warung tempat kami sarapan.

Kepergian Evra, membuyarkan kelanjutan obrolan kami. Apalagi, handpone petinggi ASN itu menyusul berdering. “Oke… saya ke sana,” jawabnya setelah menerima panggilan handpone. Akhirnya, karena waktu jugalah, kami pun bubar dan bersalaman (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA