oleh

Ngeri Kali Bah! PLN Padam, Nyawa Warga Ikut Terancam

SIANTAR | GN – Pemadaman bergilir oleh PLN yang kadang terjadi di sejumlah wilayah Kota Siantar, tak bisa dianggap remeh. Pasalnya, nyawa manusia ikut terancam dibuatnya. Kok bisa?

Berjalan kaki tergopoh-gopoh, M Boru Sitorus datang lebih awal  ke UPTD Puskesmas Kahean, Rabu (11/07/2018) pagi.  Menghampiri meja piket, wanita 60 an tahun ini lalu mengutarakan maksud kedatangannya kepada petugas Puskesmas. “Mau minta rujukan,” ujarnya ke petugas piket Puskesmas. “Mati lampu inang (ibu) gak bisa,” jawab petugas jaga. “Bah! Boa ma i (kek mana la ini) jadinya?” tanya Boru Sitorus balik. “Sogot ma ro inang da (besok la datang  ibu ya),” jawab petugas piket.

Terlihat Boru Sitorus berusaha mengutarakan penyakit diabetes yang dideritanya mulai kambuh sejak sehari sebelumnya. Harapannya, bisa menggugah hati petugas untuk kemudian mau berupaya mengusahakan rujukan dapat dicetak untuknya. Sebagai pasien BPJS, Boru Sitorus memang harus mendapatkan rujukan dari puskesmas lebih dulu, agar bisa melanjutkan pengobatan ke rumahsakit. Namun alangkah sial nasibnya, hanya karena mati lampu, rujukan tak bisa keluar dan berobat  pun jadi gagal. Dengan wajah lusuh layu, Boru Sitorus lalu memilih pulang berjalan kaki dengan kondisi tak stabil.

Pihak UPTD Puskesmas Kahean, memang tak bisa berbuat banyak ketika PLN memadamkan arus listrik. Sistem pendataan secara online membuat mereka tak berdaya untuk mengi-input data ke jaringan internet.

Begitu pun, bagi pasien BPJS yang bisa didata melalui jalur off line, tetap bisa mereka layani. Termasuk salasatu nya pasien berusia 6 tahun yang harus dirujuk ke rumahsakit hari itu. Walau rujukan berlaku hanya satu hari, tetap bisa diterbitkan untuk pasien melanjutkan pengobatan.  Namun untuk pasien yang harus dirujuk ke Medan, sistem off line tak bisa diterapkan, karena itu tetap tak berlaku di Medan.

Petugas Puskesmas yang ditanya mengapa tidak menyediakan genset sebagai alternatif memaksimalkan pelayanan, mengaku tak punya anggaran untuk membeli alat itu. “Tak ada anggarannya pak. Dari mana duit membeli gensetnya?” kilahnya.

Menanggapi hal ini, Pemerhati kesehatan S Simangunsong berharap, Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, mulai memikirkan untuk mengatasi masalah tersebut. Sehingga, pelayanan kepada masyarakat bisa lebih maksimal. “Ini bisa mengancam nyawa orang. Hanya gara-gara sejuta dua juta beli genset tak mau dipenuhi, nyawa masayarakat tergadai. Wali Kota Siantar kita harap untuk segera mengatasi masalah ini. Sehingga, ke depan tak terjadi hal seperti ini lagi,” tutup Simangunsong. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA