oleh

Hajab Kali Bah! Esron Sinaga ‘Dipaksa’ Diam, Ini Skenarionya

SIANTAR | GN – Esron Sinaga semula diharap bisa menjadi kunci pembuka dalam ketertutupan proses seleksi Sekda Siantar. Sayang, harapan itu diprediksi sirna menjelang munculnya rencana FORMAKSIS mengadu ke penagak hukum. Alamak! Skenario apa ini?

Ketua Forum Masyarakat Anti Korupsi Siantar-Simalungun (FORMAKSIS) Hamzah Faruq, mengatakan, pihaknya bergerak berdasarkan kepedulian terhadap kepentingan publik semata. “Tidak ada pesanan. Ini murni kegiatan alami saja. Ketika ada temuan, kita laporkan,” tukas Hamzah, Selasa (10/07/2018) pagi.

Ketika ditanya mengapa rencana melaporkan Esron baru muncul setelah yang bersangkutan disebut-sebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Hak Angket Penistaan Suku Simalungun? Hamzah menjawab dengan tegas bahwa hal itu adalah bagian yang tak dapat dikait-kaitkan. “Persoalan waktu yang dianggap seolah-oleh berkaitan, itu perspektif saja. Intinya kita baru menemukan data final sekarang, maka itu kita akan laporkan,” cecarnya.

Dalam temuan tim Investigasi FORMAKSIS, terdapat selisih harga dalam sejumlah kegiatan pengadaan traffic light tahun 2017, di tujuh titik di Kota Siantar. Kesan mark-up terasa kuat manakala untuk tiang saja, masih menggunakan barang lama yang sudah ada. “Kalau kita hitung, hampir Rp1 miliar dugaan mark-up itu. Apalagi dari satuan harga yang kita peroleh di lapangan, selisih jauh sekali dengan di RAB. Termasuk soal tiang yang hanya dipoles dengan cat saja,” pungkasnya.

Hamzah memastikan lagi, pihaknya tidak ingin rencana melaporkan Esron Sinaga dianggap sebagai konspirasi dengan pihak mana pun, dengan tujuan membungkam Esron dalam upaya membuka proses seleksi Sekada. Termasuk, keinginan melemahkan rencana Pemakzulan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor. “Tidaklah demikian. Ini bukan pesanan ya. Ini memang tugas kita. Sekali lagi, jangan kait-kaitkan ini dengan yang lain,” pinta Hamzah.

Seperti diketahui sebelumnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Panitia Hak Angket Penistaan Suku Simalungun, nama Esron Sinaga muncul sebagai salahsatu objek perbuatan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, dalam dugaan penistaan Suku Simalungun. Pasalnya, Esron disebut-sebut sebagai peraih nilai tertinggi pada saat seleksi sekda.  Namun entah mengapa, Esron tetap tereleminasi lantaran diduga berasal dari Suku Simalungun. Ketua Majelis Muslimin Indonesia (MMI) Kota Siantar, Bonatua Pospos, merupakan satu-satunya pihak yang meminta kepada panitia Hak Angket untuk mengungkap hal ini. Bonatua juga mengait-ngaitkan tersingkirnya Esron disinyalir, berkaitan dengan isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Hefriansyah saat menjadi saksi kasus operasi tangkap tangan Eks Bupati Batubara OK Arya Zulkarnain. Di mana pada kesaksiannya, Hefriansyah mengaku dititipkan nama oleh OK Arya, agar ditempatkan sebagai Sekda Siantar. Apakah lantaran adanya titipan OK Arya ini hingga Esron tersingkir? Bona meminta Panitia Angket DPRD Siantar, segera menelusurinya.

Saat coba dikonfirmasi, Esron enggan menerima telepon masuk dari wartawan. Padahal, nada aktif terdengar jelas. Begitu pula saat dilayangkan pesan singkat, Esron juga tak mau membalas. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA