oleh

Ketika Hefriansyah Merubah Lokasi Pembangunan Tugu Sang Raja

Catatan : Putra Marpaung

Cita-cita luhur Almarhum Hulman Sitorus mendirikan tugu Raja Sangnaualuh, agaknya mulai dirasuki pengkhianatan. Siapa yang berkhianat dan siapa yang dikhianati?

Sepekan belakangan, publik Siantar khususnya etnis Simalungun, dikejutkan dengan rencana pembangunan tugu Raja Siantar yang tertunda sejak beberapa tahun lamanya. Bukan soal kucuran anggaran biaya, bukan pula soal ornamen yang akan menghiasi tugu nantinya. Lebih sederhana namun penuh makna, keterkejutan publik ditakar soal berpindahnya lokasi pendirian tugu itu sendiri. Dari rencana awal di Jalan Sangnaualuh samping Taman Makan Pahlawan Kota Siantar, bergeser jauh ke seputaran Lapangan Merdeka Kota Siantar, nyaris berdampingan dengan Balai Kota.

Legalisasi berpindahnya lokasi pembangunan tugu Raja Sangnaualuh, tentu di tangan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor. Sadar tidak sadar, mau tidak mau, perpindahan lokasi pembangunan tugu bakal menuai beragam pertanyaan publik; Mengapa Wali  Kota rela memindahkan lokasi pembangunan tugu? Apakah lokasi yang baru nantinya telah memenuhi standart histori peradaban sejarah kejayaan Sang Raja di masanya?

Mengenang sedikit masa kepemimpinan Wali Kota Siantar Hulman Sitorus, penentuan lokasi pembangunan tugu Sang Raja sesungguhnya telah ditetapkan. Tentunya, bukan serampangan apalagi hanya dengan cakap-cakap dua tiga orang saja. Beragam tahapan demi tahapan di bawah pengawasan langsung Almarhum Hulman Sitorus, telah berjalan panjang dan penuh dengan inventarisir lapangan. Termasuk seminar yang melibatkan akademisi, budayawan, ahli waris raja sampai lembaga adat istiadat Simalungun yang berkompeten.

Tentu proses itu sudah memakan waktu dan biaya tak sedikit. Publik, juga ikut menaruh perhatian serius kala itu. Akhirnya setelah tahapan usai, lokasi pendirian tugu Sang Raja ditetapkan tepat di pintu masuk gerbang menuju inti Kota Siantar. Semua pihak bisa menerima. Ada historis panjang berdasarkan peradaban yang sulit dihempang mengapa lokasi pendirian tugu harus dipilih pada pertemuan antara Jalan Sangnaualuh dan Jalan Sutomo itu. Bersebelahan pula dengan Makam Pahlawan. Alasan apakah lokasi itu bisa terpilih? Biarlah hasil seminar yang menjawab.

Namun sangat disayangkan, kesepakatan itu kini diabaikan. Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, justru lebih menyetujui lokasi pendirian tugu dipindah ke kawasan seputaran Lapangan Merdeka. Tepatkah hal itu disetujui Wali Kota? Bukankah dengan merubah lokasi pendirian tugu dengan sendirinya mementahkan proses panjang yang telah dilakukan pihak-pihak terdahulu termasuk Almarhum Hulman Sitorus? Bisakah Wali Kota memberikan alasan yang logis terhadap perpindahan itu? Jawabnya tidak. Terbukti ketika Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor diminta menjelaskan alasan memindahkan lokasi pembangunan tugu, lewat Kabag Humas Hamam Sholeh, sepatah alasan tak mampu diuraikan untuk sekadar mengajak publik bisa menerimanya.  (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA