oleh

Ini Kata Inisiator Pendirian Tugu Raja Siantar

SIANTAR | GN – Perpindahan lokasi pendirian tugu Raja Sangnaualuh menuai kritik dari penggagasanya. Berikut penjelasannya.

Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Simalungun Indonesia (KNPSI) Jan Wiserdo Saragih kepada GOBERNEWS, Senin (11/06) mengaku kecewa dengan kebijakan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, memindah lokasi pembangunan tugu tersebut.

Diuraikan Jan Wiserdo, rencana pembangunan tugu Sang Raja diusulkan pihaknya sejak masa kepemimpinan Wali Kota Siantar Hulman Sitorus. “Walau pun sebelumnya kita sudah berencana. Tapi usulan itu kami masukkan di masa mending Hulman,” kenang Jan Wiserdo seraya memastikan, usulan mereka ke Hulman kala itu diserahkan secara resmi
para 27 Februari 2017, mengatasnamakan KNPSI.
Berangkat dari situ, pada tanggal 7 Desember 2011, bertempat di convention hall Siantar hotel, Himapsi Kota Pematangsiantar yang dimotori Hermanto Sipayung , Rado Damani dan rekan rekan lain, menggelar seminar bersama Pemerintah Kota Siantar dan sejumlah tokoh Simalungun seperti Mr Djariaman Damanik. Terlibat pula Akademisi, Ahli Waris Sangnaualuh , Ihutan bolon Damanik dihadiri Panner Damanik dan Pandapotan Damanik serta Partuha Maujana Simalungun dan tokoh-tokoh Simalungun lainnya.

Pada tanggal 9 – 24 Desember 2011, dilakukan pula sayembara menggambar design patung Tugu Sangnaualuh Damanik. Tepat pada tanggal 28 Desember 2011, Dewan juri yang dipimpin Mr. Djariaman Damanik, Pdt Juandaha Purba, Hisarma Saragih, Karsel Saragih dan lainnya, telah menetapkan sebagai pemenang sayembara adalah Robinson Damanik. “Pemenang sayembara diberi hadiah langsung oleh Wali Kota saat itu Rp6 juta. Tepatnya tanggal 10 Januari 2012 di ruang kerja Walikota Hulman Sitorus. Disaksikan oleh juri dan Panitia. Gambar design hasil sayembara diserahkan kepada Wali Kota untuk selanjutnya diserahkan kepada ahli Waris dan ihuton Bolon,” tambah Jan Wiserdo.

Setelah rampung penetapan lokasi dan bentuk tugu, akhirnya sambung Jan Wiserdo, pada Rabu tanggal 24 April 2012 dilakukanlah pembangunan tugu Sangnaualuh dan dilakukan peletakan batu pertama di Jalan Sangnaualuh Damanik, bersebelahan dengan Makam Pahlawan Kota Siantar. “Kenapa di situ lokasinya? Karena di situlah titik nol Jalan Sangnaualuh. Selain itu, lokasi tersebut juga merupakan lokasi terakhir Sangnaualuh sebelum di ungsikan ke Bengkalis oleh penjajah. Bahkan, lokasi tersebut berdampingan dengan makam pahlawan Nagur. “Ini strategisnya lokasi itu hingga terpilih menjadi tempat pendirian tugu. Lokasi ini juga sebagai kesan pertama begitu hendak memasuki inti Kota Siantar. Jadi sangat penuh dengan akurasi hostoris sejarah. Bukan asalan,” tambah Jan Wiserdo lagi.

Menurut Jan Wiserdo, sangat tidak masuk akal mengapa Hefriansyah memindah lokasi pembangunan tugu. Apalagi Almarhum Hulman Sitorus saat meletakkan batu pertama dulu, turut disaksikan banyak pihak termasuk tokoh seperti Mr Djariaman Damanik, Parlindungan Purba, Hisarma Saragih, Dr Corry Purba dan Wakil Wali Kota Koni Ismail, Danrem, Dandim, Kapolres Siantar masa itu serta Partuha Maujana Simalungun dan lembaga Simalungun lainnya.

“Dengan seenaknya dipindah, jelas ini tidak menghargai pemerintahan sebelumnya. Juga kategori merendahkan prakarsa dan dukungan tokoh Simalungun seperti Mr Djariaman Damanik, Parlindungan Purba dan ketua Lembaga Simalungun Partuha Maujana Simalungun masa itu. Jelas sekali ini juga tindakan yang menganggap Suku Simalungun lemah dan mudah didikte. Ini mengancam integritas Simalungun,” tandas Jan Wiserdo.

Dengan perpindahan lokasi pembangunan tugu ini sambung Jan Wiserdo, Wali Kota Siantar menghadapkan Suku Simalungun dengan pantangan yang diistilahkan dengan Habadoron atau malu yang luar biasa. “Ada istilah bagi Simalungun pantangan melakukan peletakan batu pertama (Patappei batu onjolan) sebanyak dua kali untuk satu pembangunan. Kecuali ada bencana alam. Itu lain hal,” keluhnya memastikan, seyogyanya mereka mendukung pembangunan tugu Raja Sangnaualuh. Namun akan melawan segala bentuk perendahan dan pelecehan dalam rencana pembangunan tugu Raja tersebut.

Terakhir Jan Wiserdo berpesan, kalau ada Simalungun yang senang dan bangga sukunya direndahkan, dilecehkan di tanah leluhur sendiri, maka mereka akan mendoakan agar segera disadarkan. Begitu juga jika ada pihak yang ingin berjuang hanya untuk terlihat sebagai pahlawan, mereka juga akan mendoakan agar kelak bisa benar-benar menjadi pahlawan. Bukan sekadar pencitraan. “Karena kami tak butuh citra. Simalungun butuh cinta, bagi kami jelas HIMAPSI yang punya jasa,” tegas Jan Wiserdo mengakhiri. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA