oleh

ERAMAS Lawan Berat

MEDAN | GN -Pasangan Djarot-Sihar diprediksi bakal kewalahan menghadapi rivalnya Edy Ramayadi-Musa Rajek Shah. Bila gempuran nanggung, jangan harap nomor 2 meraih kemenangan.

“Saya prediksi bakal ngos-ngosan DJOSS ini untuk menang. Kalau tak melakukan gempuran super dahsyat, maka jangan banyak berharap,” ujar pengamat politik, Arif Dermawan, di Medan,  Minggu (9/06) sore.

Alasan paling mendasar  sambung Arif, ERAMAS memiliki pemilih fanatik yang cenderung mayoritas bila dibandingkan dengan kubu DJOSS. Tak sampai situ. Barisan fanatik ini juga lebih mengarah pada trand militan guna memenangkan ERAMAS. “Sudahlah mayoritas, trand pemilih fanatik dan militan ini juga tak bisa digoyahkan apalagi berpaling. Nah, ini yang minim dimiliki kubu DJOSS,” ujar Arif.

Satu cara yang paling berpeluang walau perantase keberhasilannya sangat kecil, DJOSS harus main ‘gempur’ di level bawah agar menang. Saran Arif lagi. Gempuran dilancarkan juga hedaknya, konsen di kantong suara ERAMAS yang dianggap masih kurang mendapat sentuhan maksimal selama ini. “Gempur habis- habisan di kantong-kantong suara ERAMAS pada level bawah yang kurang mendapat sentuhan selama ini. Dengan dikasi sentuhan tadi, mungkin kantong suara ERAMAS itu akan bisa pecah,” sebut Arif tak mau lebih mempertegas sentuhan yang dimaksudnya. Begitu pun, ketika didesak, Arif tak menolak jika sentuhan yang dimaksudnya adalah dengan menebar uang. “Sepanjang pemberian uang itu masih di batasan yang diperbolehkan peraturan, saya kira ini jalan yang harus ditempuh oleh DJOSS. Sekali pun risikonya besar disebabkan bisa saja meleset. Tapi mau tak mau harus dilakukan kalau mau menang. Inilah yang saya maksud digempur,” ungkapnya.

Namun masih Arif, pemberian uang ini risikonya sangat besar dan konyol, ketika tak dijalankan sesuai harapan. Uang hilang, pemilih gak ada. Ngeri sekali, kan. Tapi hanya beginilah cara agar DJOOS menang,” tutup Arif.

Sementara terpisah, Sekjend Pendiri LSM Strategi, Al Husein berpendapat lain. Pilgubsu tetap sulit untuk diterima publik sebagai proses yang akuntabel. Sepanjang kasus Bupati Simalungun JR Saragih tak kunjung dituntaskan. “Baik ERAMAS mau pun DJOSS yang menang nanti, publik akan sulit menerimanya sebagai proses pemilu yang aku akuntabel. Sepanjang kasus JR Saragih dalam pelanggaran pidana pemilu tak dituntaskan,” tutup Husein. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA