oleh

Hefriansyah Kalut, Gunakan Djomen Mengusik GKSB

SIANTAR | GN –Jan Wiserdo Saragih menduga, Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor tengah kalut menghadapi Hak Angket yang tengah bergulir di DPRD Siantar. Sehingga tanpa rasional lagi, memanfaatkan Djomen Purba untuk melemahkan perjuangan GKSB.

“Saya menduga Hefriansyah sedang kalut. Terutama menghadapi Hak Angket Penistaan Suku Simalungun yang kemarin kami tuntut dan sekarang sedang berjalan di dewan. Kekalutan itu mungkin membuat Hefriansyah tak pakai rasional lagi, menggunakan orang yang salah untuk mengusik bahkan mencoba melemahkan perjuangan kami. Terus terang saja, kami menganggap Djomen Purba itu udah pikun. Maklumlah, namanya juga sudah tua,” ungkap Jan Wiserdo, ketika diminta klarifikasi soal pernyataan Djomen Purba sebelumnya, yang muncul di sejumlah media, Kamis (7/06) sore.

Dalam keterangan persnya, Djomen Purba selaku ketua Yayasan Museum Simalungun, kala itu menyatakan keluar dari barisan Gerakan Kebangkitan Simalungun Bersatu (GKSB) yang memperjuangkan Hak Angket digelar di DPRD Siantar. Tujuan tuntutan itu, agar dewan memakzulkan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, karena dianggap secara sistematis dan terencana, menista Suku Simalungun yang merupakan warisan Raja Siantar Sangnawaluh Damanik. Baik itu di dalam kebijakan, mau pun praktik kekuasaannya sebagai Wali Kota Siantar.

Djomen Purba begitu ringan menyebutkan, bahwa pihaknya tak akan ikut-ikutan lagi menuntut Pemakzulan bersama GKSB, karena merasa paling toleran. Tapi sayangnya, kala itu Djomen baru selesai pertemuan bersama Wali Kota, membahas rencana pembangunan Monumen Raja Sangnawaluh.

Mungkin karena alasan itulah Jan Wiserdo menduga, ucapan Djomen Purba juga merupakan pesanan dari Wali Kota untuk tujuan melemahkan perjuangan mereka. “Sayangnya Hefriansyah salah. Djomen Purba sejak awal perjuangan tidak pernah kami libatkan. Karena itu tadi, Djomen Purba kami anggap sudah pikun. Biarlah dia mengurusi museum. Sesuai dengan usianya. Kami sebenarnya menghormati dia karena sudah menganggapnya sebagai orangtua kami. Kelak kalau dia menganggap kami anaknya, mungkin kami akan membawanya ke psikiater atau dokter ahli jiwa untuk memeriksakan kejiwaannya. Karena memang tak sekali pun dia terlibat dalam perjuangan GKSB. Tak ada angin tak ada hujan, kok tiba-tiba menyatakan keluar. Aneh sekali. Masuknya kapan? Asal kalim saja. Itu tadi, mungkin saja dia sudah pikun ya,” tawa Jan Wiserdo mengutarakan.

Masih menurut Jan Wiserdo, dirinya tak habis pikir di saat Suku Simalungun dinistakan, ada pula orang Simalungun yang bergembira bersama si penistnya. Sukunya lagi ditindas, dia malah bangkit tertawa. Simalungun disakiti dan menangis, dia justru tak ikut merasakan sakit dan sedih. “Jangan salah memahami perjuangan kami. Arti perjuangan kami ini sangat menentukan bagi masa depan Suku Simalungun di kemudian hari,” tutup Jan Wiserdo sambil memastikan, segera menyurati Ketua Yayasan Museum Simalungun secara resmi soal klaimnya ke media yang menyesatkan publik.

Ditanya apakag GKSB akan kembali turun ke jalan dengan adanya pemantik gejolak baru soal Djomen Purba, dengan tegas Jan Wiserdo memastikan hal itu tidak akan dilakukan. Sebab jauh hari sebelumnya, Inisiator GKSB ini telah berjanji, selama Ramadhan hingga lebaran GKSB vakum sementara demi menghargai ummat Islam yang melakukan ibadah puasa dan Idul Fitri. “Tidak. Kami tidak akan turun ke jalan sebelum Idul Fitri selesai nanti. Kami tak akan terpancing. Momen Ramadhan hingga Idul Fitri harus dihargai untuk menciptakan situasi yang kondusif. Saudara kita sedang beribadah kok,” tutup Jan Wiserdo mengakhiri. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA