oleh

Karma si Penguasa

Oleh: Chairuddin Nahipospos

Gunjingan politik kini mulai mengarah pada perdebatan sosok calon Wakil Wali Kota Siantar yang bakal ditinggal Togar Sitorus. Siapa paling berpeluang?

Belum lepas dari ingatan, ketika proses panjang memenangkan almarhum Hulman Sitorus dan Hefriansyah Noor pada Pilkada lalu, banyak kenangan yang sampai sekarang dilupakan. Resman Panjaitan dan Badri Kalimantan, termasuk salahsatu kenangan itu.

Kedua nama ini, memang sudah terdepak dari lingkungan kekuasaan yang kini dikendalikan sepenuhnya oleh Hefriansyah Noor, tentu hanya sebagai pemeran pengganti meneruskan tongkat estapet kepemimpinan warisan almarhum Hulman. Resman Panjaitan, saat ini sudah tak lagi dianggap Hefriansyah sebagai orang dekat almarhum Hulman saat memenangkan Pilkada lalu. Jangan bicara soal penghargaan apalagi penghormatan. Resman kini justru dicuekin, bahkan tak pernah lagi diajak berkomunikasi paling tidak demi mengawal janji-janji kampanye dulu. Parahnya, Resman Panjaitan bahkan terancam dari jabatan Kepala Dinas Pendidikan Kota Siantar saat ini. Nahas sekali.

Seakan lupa kacang pada kulitnya, Hefriansyah yang kini berjaya disebabkan ajal menjemput almarhum Hulman, ikut pula menyingkirkan sosok berpengaruh untuk kalangan muslim di Pilkada lalu. Dia adalah Badri Kalimantan. Lebih dari keinginan memenangkan pasangan yang dulu berjuluk ‘Manis’ dalam jargon Pilkada, Badri adalah makcomblang yang telah ‘menikahkan’ Hulman dan Hefriansyah pada saat Pilkada. Tapi, semua itu kini seakan-akan tak dianggap sebuah jasa berarti oleh Hefriansyah. Badri Kalimantan, malah didepak dari jabatan Dirut PDAM Tirtauli. Padahal, apabila Hefriansyah mau, Badri Kalimantan bisa saja tetap menduduki kursi Dirut tersebut tanpa menabrak aturan mana pun.

Karena itulah, jika dirunut dari proses panjang Pilkada lalu hingga saat ini, tidak dapat ditepis bahwa hasil seleksi alam sangat wajar; jika Resman dan Badri, muncul menjadi kandidat yang digadang-gadang bakal menduduki kursi Wakil Wali Kota Siantar. Akan tetapi perlu diingat, Partai Demokrat juga sewajarnya mempertimbangkan sosok alternatif terutama dari Etnis Simalungun. Karena partai berlambang piramida terbalik ini, sesungguhnya juga sudah terancam kehilangan kekuasaannya di Kota Siantar. Mengingat, Hefriansyah justru hendak melupakan jasa partai besutan SBY ini dan dikabarkan, hendak bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dalam waktu dekat.

Apakah kondisi ini nanti akan membuat Partai Demokrat nyaman? Saat berjuang bersama Demokrat, di waktu menikmati hasil perjuangan Hefriansyah justru lari ke PDI Perjuangan. Beruntungnya, saat fenomena pengingkaran itu hendak dilakoni Hefriansyah, Etnis Simalungun hadir demi mengamankan kekuasaan partai yang dimotori Togar Sitorus itu secara tidak langsung. Sekali lagi, secara tidak langsung. Apalagi kalau bukan tuntutan pemakzulan terhadap Hefriansyah karena dianggap menista Suku Simalungun. Bisa jadi, ini akumulasi dari karma buat sang penguasa.

Kelak ketika pemakzulan benar terjadi dan Togar Sitorus selaku Ketua Demokrat Siantar diangkat sebagai Wali Kota Siantar, menggantikan Hefriansyah yang dilengserkan lewat konstitusi, Partai Demokrat wajib berterimakasih kepada Etnis Simalungun. Paling tidak, memosisikan kursi Wakil Wali Kota Siantar itu kepada sosok dari etnis peninggalan leluhur Raja Siantar tersebut. Apakah ini mungkin? Biarlah waktu yang akan menjawab semua. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA