oleh

Sugesti Keranda Mayat, Hefriansyah ‘Tobat’

SIANTAR | GN –Tutup jalan gak mempan, ‘penyerbuan’ kantor wali kota berkali-kali juga tak berarti. Kini, giliran massa membawa keranda mayat dibalut kain hijau bertempel fotonya, Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, akhirnya menyerah dan mau bernegosiasi dengan pedagang Pasar Horas.

Aksi unjukrasa kali ke enam, digelar Jumat (11/05) sekira pukul 10.30 WIB. Massa dari pedagang Pasar Horas didampingi mahasiswa, bergerak dengan konvoi jalan kaki dengan rute Pasar Horas-Balai Kota, melintasi Jalan Sutomo. Walau dikawal pihak Kepolisian, konvoi massa tetap menimbulkan kemacetan.

Massa tampak mengusung berbagai poster hujatan berikut keranda mayat diselimuti kain hijau dengan tempelan foto Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, lengkap dengan pakaian kebesarannya sebagai pejabat wali kota. Sampai di depan kantor Wali Kota Siantar Jalan Merdeka, massa kemudian berkumpul dan mendengar orasi dari teman silih berganti. Keranda mayat, dilintangkan tepat di depan tangga masuk kantor orang nomor satu di Siantar itu.

Tak berselang aksi berlangsung lama, Wali Kota Siantar diwakili Sekda Kota Siantar Budi Utari, datang menemui massa. Kedatangan Budi, sontak merubah suasana. Massa makin gaduh dan teriakan makin bersorai. “Saya pastikan tidak ada pembangunan tanpa melibatkan pedagang. Aspisari pedagang paling utama kami dengar dalam rencana pembangunan nanti,” cecar Budi. Massa terdiam, namun tetap menuntut pembatalan rencana revitalisasi Pasar Horas. Budi kemudian menjamin pembangunan pasar ditunda sampai habis lebaran. Massa kemudian menuntut Budi membuat komitmen secara tertulis. Budi menuruti, massa pun membubarkan diri.

Wak Rajab, warga yang sempat terkena dampak demo pedagang Pasar Horas saat menutup Jalan Sutomo dalam aksi unjukrasa sebelumnya, menilai kebijakan Pemko Siantar untuk bernegosiasi dengan pedagang sangat lamban. Seharusnya sejak awal sambung Wak Rajab, telah dilakukan. Sehingga, tidak menguras energi dan kekecewaan publik.

“Seharusnya sejak awal. Tapi mungkin wali kota belum tergerak hatinya. Bisa jadi karena keranda mayat tadi beliau baru ingat mati lalu memilih untuk mau bernegosiasi. Saya berharap, pembangunan apa pun yang dirancang pemerintah, haruslah melibatkan peran serta masyarakat. Sehingga, begitu hendak dilaksanakan, tidak lagi menimbulkan persoalan,” ujar Wak Rahab singkat. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA