oleh

Hefriansyah jadikan Simalungun…? Terlalu!

SIANTAR | GN – Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, tidak hanya sebatas menista Suku Simalungun. Lebih dari itu, warisan Sang Raja Siantar Sangnawaluh Damanik, dianggap lebih rendah dari tamu padahal di tanahnya sendiri.

“Kami dianggap hanya pusaka. Tinggal sejarah. Ini menyakitkan sekali,” pungkas Ketua Umum Ikatan Keluarga Islam Simalungun (IKEIS) Drs Lisman Saragih, di sela-sela penyerahan pernyataan sikap bersama seluruh elemen Suku Simalungun, kepada DPRD Siantar di kantor wakil rakyat Jalan Adam Malik, Senin (7/05) pagi.

Simalungun masih Lisman, dianggapnya lebih rendah dari tamu padahal di rumahnya sendiri, bisa dilihat dari pemangku jabatan susunan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor. Suku Simalungun amat minim dan sangat memprihatinkan jumlahnya. Dari jabatan Sekda, Ketua KPU, 9 Direksi Perusda, 16 Kepala Dinas, Kabag dan Kaban, sepi dari pejabat berlatar Suku Simalungun. “Tapi kami tidak marah. Bahkan dari pejabat Wali Kota Siantar sebelumnya, perlakuan terhadap Suku Simalungun ini tidak mewakili kearifan lokal. Kami bisa kok menahan diri. Tapi makin ke sini, makin parah. Tamu saja tak layak diperlakukan tak hormat, namun kami sekarang ini justru dianggap lebih rendah dari tamu. Padahal, ini (Siantar) tanah kelahiran nenek moyang kami dari sejarah kerajaan dahulu kala,” kecewa Lisman mengemukakan.

Merendahkan Simalungun dari tamu yang harusnya tetap dihormati maksud Lisman, dikarenakan Pemko Siantar di bawah kepemimpinan Hefriansyah Noor, nekat menampilkan gambar kreatif Perayaan Hari Jadi Kota Siantar ke 147, dengan tampilan rumah adat Simalungun yang sudah terbakar. Rumah adat itu dikelilingi gambar orang berpakaian adat mewakili 7 suku saja. Tanpa Etnis Simalungun. Konyolnya lagi, di bawah gambar ditulis Siantar Kota Pusaka. “Kata pusaka inilah yang semakin memperjelas niat jahat menghilangkan keberadaban budaya kami,” tutup Lisman.

Sementara itu Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Simalungun Indonesia (KNPSI) Jan Wiserdo menambahkan, kunjungan ke DPRD Siantar hari itu tidak sedikit pun ada niat mengusik kekhusukan gelar MTQ di Lapangan H Adam Malik yang berada tepat di depan kantor dewan. “Kami haturkan permohonan maaf kami pada seluruh pihak yang terlibat di dalam kegiatan MTQ. Gak ada niat kami mengusik ketenangan acara MTQ. Kami hanya menyerahkan sikap bersama dan tanpa pengerahan massa. Karena ini sudah terjadwal sejak awal,” tutup Jan Wiserdo.

Pernyataan tertulis sikap bersama diserahkan elemen Suku Simalungun tergabung di dalam Gerakan Simalungun Bersatu, terdiri dari perwakilan IKEIS, KNPSI, Gerakan Mahasiswa Islam Simalungun (GEMA-ISI), Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun, Himpunan Masyarakat Simalungun Indonesia (HMSI), Ikatan Keluarga Besar Purba Dasuha Pakon Panogolan (IKBPD-BP) dan Harungguan Sinaga Boru Pakon Panogolan (HSBP) Kota Siantar. Keseluruhan elemen Suku Simalungun ini hanya diwakili ketua masing-masing tanpa pengerahan massa. Terlihat perwakilan mengenakan pakaian adat Simalungun lengkap atributnya.

Sementara Ketua DPRD Siantar Marulitua Hutapea, dengan sangat diplomasi meminta agar elemen Suku Simalungun untuk bersabar dikarenakan agenda dewan yang padat, hingga tuntutan masyarakat dari Suku Simalungun belum disikapi. Namun, Marulitua yang saat menerima delegasi Suku Simalungun didampingi anggotanya Denny Siahaan, berjanji akan secepatnya membahas tuntutan tersebut.

Sama seperti sebelumnya, tuntutan dalam sikap bersama itu mendesak agar dewan segera menggunakan Hak Angket demi pemakzulan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, karena dianggap menista suku peninggalan Raja Siantar Sangnawaluh Damanik, yang merupakan tokoh Simalungun yang sangat dihormati. (ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA