oleh

Perjuangan Suku Simalungun Stop, Kenapa?

SIANTAR | GN -Kabar yang menyebutkan bahwa perjuangan Suku Simalungun akan dihentikan, sempat membuat publik bertanya-tanya. Aroma ’86’ didengungkan untuk memecah perjuangan. Tak disangka, setelah redaksi menerima pengakuan resmi penghentian aksi, benarlah ternyata…?

“Benar. Dibatalkan,” kata ketua Komite Nasional Pemuda Simalungun Indonesia (KNPSI) Pusat, sekaligus inisiator aksi, Jan Wiserdo Saragih, Minggu (6/05) pagi. Pada rencana sebelumnya, diakui Jan Wiserdo, puncak aksi akan digelar Senin (7/05) pagi. Gelombang massa yang akan hadir masih kata Jan Wiserdo, merupakan gabungan dari Sumut dan DKI Jakarta. Namun, rencana tersebut terpaksa dibatalkan oleh karena adanya kegiatan Musabaqoh Tillawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kota Siantar yang tengah berlangsung.

“MTQ merupakan program pemerintah terkhusus bagi ummat Islam yang harus kami hargai. Tidak ada faktor lain dalam keputusan menghentikan aksi ini. Menunda aksi Hari Senin nanti, adalah jalan terbaik dan bukti toleransi kami dari Suku Simalungun,” papar Jan Wiserdo.

Soal jadwal pasti kapan aksi puncak akan kembali digelar, Jan Wiserdo belum bisa menyampaikan. “Belum bisa kami pastikan sekarang. Aksi puncak sekaligus doa bersama itu akan kami rancang kembali ulang. Perencanaan dan pematangan perlu kami ulas kembali. Karena ini puncak, kami tidak akan terburu-buru merancang ulangnya secara matang,” sambung Jan Wiserdo sembari memastikan, aksi yang direncanakan Senin depan sesungguhnya sudah matang. Akan tetapi, mengingat jadwalnya yang bersamaan dengan kegiatan MTQ, mau tak mau harus dipending.

Jan Wiserdo mengakui, tak sedikit pihak akan memanfaatkan ruang kosong dalam keputusan penundaan aksi tersebut. Termasuk, melempar isu miring dan negatif. Namun Jan Wiserdo lebih meyakini, penundaan aksi justru makin berdampak positif di mata publik. “Saya justru meyakini bahwa publik akan semakin percaya, bahwa aksi kami Suku Simalungun ini tetap mengedepankan persatuan dan toleransi. Kondusifitas publik sangat penting bagi kita semua,” sambungnya.

Di akhir, Jan Wiserdo menyerukan agar seluruh elemen masyarakat yang ikut memberikan dukungan dan terlibat aktif dalam aksi suci membela Diskriminasi Suku Simalungun, seyogyanya tidak mudah mempercayai isu yang berkembang di luar informasi resmi dari pihak yang jelas.

Seperti diketahui, Suku Simalungun merasa diperlakukan diskriminatif oleh Pemko Siantar dalam pemublisan gambar kreatif perayaan Hari Jadi Kota Siantar ke 147 lalu. Sekali pun gambar kreatif yang sempat heboh itu telah direvisi panitia perayaan, namun Suku Simalungun kadung merasa dinistakan. Tak ayal, mereka pun menuntut DPRD Siantar untuk menggunakan hak nya membentuk Pansus dan memutuskan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, bersalah dan wajib untuk dimakzulkan. Selain Suku Simalungun, elemen dari Mandailing dan Batak Toba kini bergabung bersama Suku Simalungun mendesak DPRD Siantar segera memaripurnakan Hak Angket untuk Pemakzulan Wali Kota Siantar.

Sejauh ini, aksi membela Suku Simalungun sudah 7 kali dilakukan massa. Dalam perencanaannya, puncak aksi akan digelar Senin mendatang. Akan tetapi, dibatalkan lantaran jadwal yang berbenturan dengan gelar MTQ tingkat Kota Siantar. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA