oleh

Hefriansyah Dianggap Menista: Bank Mandiri Gak Mau Kalah

SIANTAR – Belum reda kemarahan Etnis Simalungun terhadap Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, karena dianggap menista Suku Simalungun, kini muncul ulah Bank Mandiri Cabang Pematangsiantar Jalan Sudirman Kota Siantar, seolah tak mau kalah.Belum reda kemarahan Etnis Simalungun terhadap Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, karena dianggap menista Suku Simalungun, kini muncul ulah Bank Mandiri Cabang Pematangsiantar Jalan Sudirman Kota Siantar, seolah tak mau kalah.


Ketua Pusat Komisi Nosional Pemuda Simalungun Indonesia (KNPSI) Jan Wiserdo Saragih, mengaku telah melaporkan pihak Bank Mandiri ke Kapolri di Jalarta. “Kita sudah melapor agar Kapolri segera menindak tegas Bank Mandiri. Laporan ke Kapoldasu dan Kapolres juga ada,” kata Jan Wiserdo, Senin (23/04) sore.


Menurut Jan Wiserdo, Bank Mandiri telah melanggar Undang-undang nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Dasar pertama dilihat dari pakaian staf dan pegawai Bank Mandiri yang hanya bernuansa adat Melayu dan Tapanuli. “Tak ada pakaian Simalungun padahal mereka berkantor di tanah Habonaron do Bona. Tanah asli Suku Simalungun,” tambah Jan Wiserdo.


Diurai dari sudut mana pun sambungnya, Kota Siantar masih merupakan bagian yang sama dan tak bisa dipisahkan dari Suku Simalungun sebagai penghuni asli sejak zaman dahulu. Sehingga tak heran seluruh ornamen perkantoran baik BUMN mau pun pemerintah, menggunakan ornamen dan gaya arsitektur Simalungun. “Sama seperti Wali Kota Siantar. Bank Mandiri mencoba menghapus Suku Simalungun sebagai suku asli di kota ini,” ujarnya.


Kota Siantar masih Jan Wiserdo, adalah tanah leluhur dan tanah budaya Suku Simalungun. Hal ini juga dapat dibuktikan dari seluruh aspek yang ada baik sejarah dan sosial. Sejarah mencatat Kota Siantar dulunya merupakan Ibu Kota Kabupaten Simalungun. Motto Kota Siantar (Sapangambei Manoktok Hitei) juga masih menggunakan bahasa Simalungun. Raja Siantar bermarga Damanik yang merupakan putra Suku Simalungun. “Jadi sangat jelas dengan ini semua,” ungkap Jan Wiserdo.

Mengacu pada Google Map juga tandas Jan Wiserdo, Siantar masih disebut Kota Simalungun. Sama seperti Kota Bandung dari Kabupaten Bandung, Bogor muncul lantaran Kabupaten Bogor, serta Kota Cirebon lahir dari rahim Kabupaten Cirebon. Jika saja Ibu Kota Kabupaten Simalungun dahulu bernama Simalungun, maka boleh jadi bukan Kota Siantar namanya. Akan tetapi, Kota Simalungun.

“Pada saat kedatangan tamu negara seperti Presiden, Menteri dan Pejabat lainnya, yang diberikan pakaian kebesaran atau cendera mata, masih dalam bingkai Simalungun. Banyak lagi bukti lainnya yang mempertegas Siantar adalah tanah asli leluhur kami. Jadi jangan kaburkan apalagi menghilangkan budaya kami,” kesalnya seraya menduga, ada upaya sistematis Bank Mandiri sama halnya seperti yang dilakukan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor. Menjadi pejabat di Siantar, lalu berkonspirasi ingin menghapuskan dan menghilangkan eksistensi keberadaan sejarah Suku Simalungun dari Kota Siantar.

Jika ini terus dibiarkan, ulas Jan Wiserdo, banyak aspek negatif akan muncul. Masyarakat akan berfikir bahwa Kota Siantar bukanlah tanah budaya dan tanah leluhur masyarakat suku Simalungun. Masyarakat akan berfikir bahwa tuan rumah di Kota Siantar bukanlah suku Simalungun, melainkan suku lain yang pakaian adatnya saat ini dikenakan staf dan pegawai Bank Mandiri Cabang Pematangsiantar. Masyarakat akan berfikir pula bahwa suku Simalungun sudah tinggal pusaka dan tinggal sejarah saja. Sebagaimana yang disikapi Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor.

“Kami berharap, Kapolri serius menindaklanjuti hal ini agar masyarakat tak terpancing dan berbuat negatif. Karena ini terus menerus terjadi hingga menimbulkan amarah batin masyarakat Simalungun yang belum berkesudahan. Jangan picu dampak SARA. Bahaya,” tutup Jan Wiserdo.
Terpisah, pihak Bank Mandiri belum ada yang berhasil diminta klarifikasi terkait masalah ini. (Ung/LIST)

BACA JUGA