oleh

Aksi Damai Etnis Simalungun: Sekda Diusir, Wali Kota ‘Ditampar’

SIANTAR | GOBERNEWS – Aksi damai etnis Simalungun mendesak DPRD Siantar menggelar Sidang Paripurna Hak Angket guna Pemakzulan Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, berakhir damai Kamis (19/04) pagi hingga sore hari. Serangkaian kegiatan aksi berlangsung, banyak kejadian aneh sampai memilukan.

Amatan gobernews.co.id di lokasi aksi kantor DPRD Kota Siantar Jalan Adamalik, persiapan sudah tampak dimulai pukul 10.00 WIB. Sepanduk sepanjang 50 meter dipasang di pagar alun-alun kota. Sekali pun jumlah massa tak sesuai yang direncanakan awal mencapai ribuan, hanya di kisaran 300 an, tapi tak menyurutkan semangat massa di bawah kendali langsung Ketua Komite Nasional Pemuda Simalungun Indonesia (KNPSI) Janswerdo Saragih.

Seluruh peralatan sound system, gondang hingga tongkat Tunggal Panaluan ikut di bawa. Ratusan kertas karton putih berisi tulisan ungkapan kekecewaan diusung massa. Bahkan sejumlah tulisan berisi tulisan, #2018, Ganti Wali Kota. Selain mengusung spandu, peserta aksi tampak menggunakan pengikat kepala dari kain putih polos sebagai tanda berkabung. Sementara sebagian lagi, ada menggunakan pakaian adat asli Simalungun. Personil keamanan baik dari Kepolisian mau pun Sat Pol PP, juga terlihat sudah bersiaga. Satu unit mobil barakuda dan water cannon juga terlihat parkir di pekarangan kantor dewan.

Pukull 11.00 WIB, massa yang sudah menyemut di depan kantor dewan merangsek masuk pekarangan dan berkerumun di depan pintu masuk utama kantor dewan. Rencana memasuki kantor dihalau brikade petugas. Orasi kemudian digelar. Ritual budaya Simalungun tak ketinggalan jadi pertunjukan kala itu. Satu personil Sat Pol PP sempat sempoyongan diduga terseret dalam ritual mistik yang dianggap suci.

Sekira hampir 2 jam berorasi, margondang dan melantunkan pujian kepada leluhur, massa tampak mulai kesal lantaran tak satu pun perwakilan DPRD Siantar sudi menemui mereka. Alhasil, massa mencoba masuk ke kantor dewan dengan menerobos brikade satuan Polisi Pamong Praja serta pihak Kepolisian Resort Kota Siantar. Aksi saling dorong tak terhindarkan bahkan nyaris ricuh. Beruntung komandan aksi berhasil menghalau massa agar tak anarkis. Sesaat kemudian, perwakilan dewan akhirnya menemui massa. Tampak anggota dewan Hotmaulina Malau dan Frans Bungaran Sitanggang, keluar dari kantor dan menemui massa.

Setelah berembuk, 10 perwakilan massa diterima masuk dan dialog pun digelar di dalam ruang pertemuan. Di tengah dialog berjalan, Sekda Kota Siantar Budi Utari, tiba di dalam ruangan untuk menyampaikan pesan wali kota. Tapi sial, belum sempat bicara, Budi diusir dari ruang pertemuan, memalukan. “Kami tidak berkepentingan dengan Anda dan wali kota. Keluar!” pinta Janswerdo membuat Sekda Siantar ciut dan memilih meninggalkan lokasi. Setelah menyampaikan aspirasi, tak sampai satu jam massa membubarkan diri dengan tertib.

Kepada gobernews.co.id, Janswerdo menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan aksi tersebut dimanfaatkan wali kota sekali pun untuk klarifikasi. “Wali kota ingin menemui kita tapi kita menolaknya. Biar menjadi tamparan buatnya. Kami sudah membulatkan tekad akan meneruskan perjuangan ini sampai Hefriansyah turun dari jabatannya. Dan aksi serupa akan kita lakukan lagi dengan jumlah massa yang lebih besar lagi. Kami baru selesai setelah DPRD Siantar mau memparipurnakan Hak Angket guna pemakzulan wali kota,” imbuhnya.

Sementara diketahui saat aksi berlangsung, banyak anggota dewan yang tak kelihatan. Kabarnya, tengah mengikuti Bimtek di luar kota. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA