oleh

Hefriansyah Menista Suku Simalungun? Janswerdo: Kami Marah…!

SIANTAR-Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor, dianggap melakukan penistaan terhadap suku Simalungun. Kemarahan pun membuncah hingga genderang perang pun tak dapat dielakkan.

“Sekarang kami marah. Sebagai putra asli suku Simalungun, kami mau dikubur di tanah kelahiran kami sendiri. Ini sungguh penistaan dan kami akan melawan,” kata Janswerdo Saragih meledak-ledak ketika ditemui gobernews.co.id, Rabu (18/04) sekira pukul 15.00 WIB.

Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Simalungun Indonesia (KNPSI) ini menegaskan, sejak menjabat Wali Kota Siantar setahun lalu, Hefriansyah tak menggambarkan keramahan terhadap etnis asli daerah yang dipimpinnya. “Apa karena dia bukan suku Simalungun hingga dia tak mempedulikan kearifan lokal? Kami sudah lama menunggu, tapi apa yang dilakukannya justru melukai perasaan kami,” kesal Janswerdo.

Tak terkecuali dalam penempatan jabatan di lingkup kerja Pemko Siantar sambung Janswerdo, sejumlah putra-putri terbaik Simalungun seolah tak dibolehkan untuk memangkunya. Parahnya, harus diisi dari luar daerah. Dari tingkat Sekda Kota Siantar, jajaran Direksi Perusahaan Daerah dan lain sebagainya.

“Bayangkan, Rumah Sakit Umum Daerah dr Djasamen Saragih, yang sudah jelas-jelas nama itu merupakan nama salahsatu tokoh sejarah Simalungun dan ikut berjuang mendirikan kota ini, Direkturnya diserahkan kepada yang lain. Padahal ada putri asli Simalungun di sana yang sudah bertahun-tahun sebelumnya menjabat sebagai Wakil Direktur. Belum lagi tugu becak Siantar yang bisa direalisasikan hanya hitungan bulan. Sementara tugu Raja Sangnawaluh, 10 tahun direncanakan tapi tak pernah diprioritaskan untuk diwujudan,” tegas Janswerdo.

Puncak kemarahan terhadap Hefriansyah yang terkesan menistakan Suku Simalungun dipaparkan Janswerdo, ketika muncul gambar konstruktif dan sistematis dalam rencana pagelaran Hari Jadi Kota Siantar. Di mana pada gambar itu, terdapat tulisan pusaka dengan goresan 7 suku mengitarinya. Sayangnya, Suku Simalungun tak ikut serta dalam lukisan kretif tersebut. “Di gambar itu tak kita lihat atribut suku Simalungun sedikit pun. Ini menggambarkan rencana jahat dan tersistematis ¬†untuk mengubur suku kami sebagai penduduk asli kota ini,” tutup Janswerdo seraya memastikan akan melakukan perlawanan untuk menentang upaya penghilangan eksistensi Suku Simalungun di tanahnya sendiri. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA