oleh

JR Stabilkan Pupuk dulu, Baru Bicara Pilgub

SIMALUNGUN, GN-Persiapan Bupati Simalungun JR Saragih dalam perhelatan Pilgubsu 2018 mendatang masih rapuh. Indikator ini terlihat nyata ketika berbagai masalah publik di Simalungun tak mampu diselesaikan mantan militer ini.

Jika sebelumnya soal pungli di Disdik Simalungun mencuat, kini giliran kelangkaan pupuk yang bertahun-tahun menjadi masalah utama petani Simalungun menyentak publik. “Masalah kelangkaan pupuk ini sudah bertahun-tahun tak bisa terselesaikan. Padahal ini menyangkut masalah nasional karena berkaitan dengan ketahanan pangan,” cecar Marudut Tampubolon, Selasa (13/6/2017) pagi.

Marudut memastikan, acapkali memasuki musim tanam, pupuk sulit didapat. “Khusus pupuk subsidi, petani kelimpungan memerolehnya di kios saban musim tanam tiba. Ini seperti tak bisa diatasi oleh bupati. Bagaimana mau mengurus Sumut kalau kelas Kabupaten Simalungun saja dia (JR) belum menunjukkan keberhasilan,” sindir petani padi ini kesal.

Tidak dibantah Tampubolon, pasokan pupuk dari produsen sebenarnya tak pernah putus. Sayangnya, pupuk yang harusnya sampai ke tangan petani justru raib entah kemana. Seperti contoh produsen pupuk Petrokimia Gersik. Baru jarak sehari menyalurkan 4 interkuler pupuk Ponska dan ZA kepada distributor, dicari ke kios barang sudah tak ada. Pihak kios yang ditanya kemana pupuk tersebut disalurkan, selalu tak bisa menjawab. “Kita selaku kios gak dapat jatah dari distribitor bang. Jadi petani kelabakan bisa mendapatkan pupuk dari mana lagi. Alhasil, beli di pasar umum dengan harga tak subsidi lagi,” celetuk pemilik kios pupuk bertubuh kurus yang ikut mendampingi Tampubolon.

Ditanya kenapa jatah pupuk tak disalurkan distributor kepadanya, pria ini geleng kepala. “Yang pasti, jatah kita selaku kios tak pernah dipenuhi distributor la bang. Padahal kita yang paling berhak. Kalau pun dikasi, paling 10 persen dari jatah yang sudah disepakati. Kita jadi bingung menjawab petani jika datang ke kios kita minta jatah pupuknya,” beber pemilik kios ini lagi minta namanya tak dipublikasi.

Ironisnya lagi sambungnya, pupuk yang harusnya disalurkan distributor kepada kios seperti dirinya, kerap menumpuk di gudang distributor. “Banyak kali bang pupuknya disimpan di gudang distributor. Tapi kita minta hak kita, gak pernah mau dikasih. Kurasa mau dijual ke pengusaha perkebunan. Harganya, kan bisa mahal,” duga pria berkacamata ini.

Dengan harga pupuk yang tak lagi subsidi, jelas membuat  petani mengeluarkan biaya produksi lebih tinggi. Bertahun-tahun masalah spekulasi pupuk subsidi terjadi di Simalungun, akan tetapi JR Ssragih tak pernah hadir memberi solusi bagi petani. Petani berharap, JR selesaikan mafia pupuk dulu, barulah bicara Pilgubsu. Terpisah, Kadis Pertanian Simalungun Jan Posman, tak mau menjawab wartawan ketika hendak dipertanyakan soal spekulasi pupuk di Simalungun. (Ung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA